Memetik Pelajaran dr Hidup Imam Syafii

Memetik Pelajaran dr Hidup Imam Syafii

Memetik Pelajaran dr Hidup Imam Syafii

Tidak ada seorangpun muslim yang tidak mengenal sosok ini. Ia termasuk salah seorang dari Imam madzhab dalam bidang fiqh. Namanya, begitu harum dan dikenal dari pelosok dunia paling barat sampai paling timur. Bahkan, meski sudah meninggal lama, namanya tidak akan pernah sirna sampai hari kiamat kelak tiba. Ya, dialah Imam Syafi’i. Ada hal yang sangat penting yang patut kita jadikan pelajaran dari kisah perjalanan Imam Syafi’i sebagaimana akan dijelaskan di bawah ini.

Pertama, Imam Syafi’i lahir dari keluarga sangat miskin, keluarga rakyat biasa, bukan keluarga berada bukan pula dari keluarga seorang ulama. Ayah dan ibu juga nenek moyangnya adalah warga biasa, tidak ada seorangpun dari mereka yang menjadi seorang ulama besar. Kasarnya, ia lahir dari golongan petani, bukan dari keluarga kyai. Tapi, meski demikian, ia tampil dan menjadi gurunya para kyai. Inilah, bukti bahwa bukan ukuran utama, kalau kyai itu harus dari keluarga kyai juga. Siapapun bisa menjadi seorang ulama, selama dia sungguh-sungguh dan tidak bosan berdoa.

Kedua, seorang yang miskin pun dapat berhasil dan menjadi orang “hebat”. Kekayaan bukanlah jaminan meraih kesuksesan. Kuncinya hanyalah kemauan dan kerja keras. Bahkan, terkadang kekayaan yang melimpah seringkali menjadi “obat bius” sehingga ia menjadi orang lemah, manja dan ujung-ujungnya sengsara, karena tidak mengetahui apa yang sebaiknya di lakukan dengan kekayaannya itu. Awas hati-hati anda!!. Kekayaan yang orang tua anda miliki jangan menjadi “obat bius”. Jadikan dia sebagai “doping” untuk maju dan terus maju. Anda yang hidup pas-pasan juga jangan perputus asa. Tanyakan kepada orang-orang sukses sekarang. Umumnya mereka lahir dari keluarga miskin, keluarga petani, pedagang asongan, tukang nyuci pakaian dan lainnya. Semangat, kerja keras dan kemauanlah yang merobah semuanya. Mereka bangkit mengalahkan orang-orang manja, mengalahkan orang-orang gedongan, mengalahkan orang-orang yang hidup melimpah dalam kekayaan.

Ketiga, sejak kecil Imam Syafi’i hidup seorang Yatim. Ibunyalah yang mendidik dan mengajari serta mengarahkannya. Ini juga sebuah pelajaran, bahwa banyak para ulama dan orang sukses yang lahir berkat bimbingan dan pendidikan seorang ibu. Kewafatan ayah dan kejandaan seorang wanita bukanlah alasan untuk menjadi orang lemah. Ibulah yang seringkali “menyulap” sukses tidaknya seorang anak. Maka, sungguh-sungguh dan berbenahlah wahai kaum ibu dalam mendidik anak. Sayang kepada anak, tidak berarti membiarkan dan memberikan semua keinginannya. Ada waktunya anda sedikit keras dan ada waktunya anda lembut. Ibunya Imam Syafi’i pun demikian. Sejak kecil, Syafi’i Kecil sudah disuruh dan “sedikit dpaksa” untuk ngaji ke Mesjidil Haram. Sesaat, ia terpaksa “menjewer” Syafi’i kecil lantaran merengek tidak mau pergi ngaji. Bahkan, bukankah Rasulullah Saw pun lahir dan menjadi besar berkat bimbingan dan pendidikan seorang ibu?. Oleh karena itu, anda wahai para ibu, jadilah seperti ibunya Imam Syafi’i dan ibunya Rasulullah Saw. Yakinlah para ibu semua bisa melahirkan Imam Syafi’i- Imam Syafi’i baru. Ingatlah, tidak ada kata tidak bisa, yang ada hanyalah tidak mau.

Demikian juga, banyak ulama berkaliber internasional yang dilahirkan dalam keadaan yatim. Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal adalah dua di antara sekian banyak contoh dimaksud. Bahkan, bukankah Rasulullah Saw sendiri dilahirkan dalam keadaan yatim? Karena itu, yatim, miskin, fakir, bukanlah penghalang menuju kesuksesan. Jadikanlah ke-yatim-an anda, kemiskinan anda, kefakiran anda, sebagai modal utama menuju kesuksesan. Kesendirian anda di tengah teman-teman anda yang bisa manja-manjaan dengan bapaknya, adalah motor penggerak untuk maju dan terus maju. Dunia kini mencatat, siapa yang “cengeng” dan “manja”, lambat laun dia akan tersingkir. Hanya orang-orang yang siap bekerja keras dan bermental bajalah yang akan mampu bertahan. Majulah kawan, saya yakin kita bisa menjadi Syafi’i-Syafi’i baru meskipun dalam bidang dan lapangan yang berbeda-beda, bukan semata dalam ilmu agama. Sekali lagi bangkitlah, jangan sampai kekayaan yang orang tua anda miliki menjadi “obat bius” sehinga anda menjadi orang lemah, manja dan “cengeng”. Jadikanlah kekayaan orang tua anda itu sebagai “doping” yang setiap saat menambah semangat untuk maju dan terus maju.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: