Pedihx Sakaratul Maut Bisa Dikurangi Dgn Berbuat Baik Kpd Orang Tua

Dahsyatnya Sakaratul Maut

Dahsyatnya Sakaratul Maut

Sakaratul maut adalah di antara hal yang ditakuti oleh setiap orang. Pedihnya, lebih pedih dari pada ditebas pedang tajam seribu kali. Demikian sabda Rasulullah saw dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim. Semua orang, termasuk orang shaleh, akan merasakan sakitnya, sekalipun tentunya dengan tingkatan yang berbeda-beda.

Karena itu, tidak heran apabila semua orang takut kepadanya. Semua orang ingin lari dari padanya, sebagaimana firman Allah: “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya” (QS. Qaf [50]: 19)

Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihyâ ‘Ulûmiddîn, pernah meriwayatkan, bahwa ketika Nabi Musa as sedang sakaratul maut, Allah bertanya kepadanya: “Wahai Musa, bagaimana kamu merasakan kematian itu?”

Nabi Musa menjawab: “Saya mendapatkan diri saya seperti seekor kambing yang sedang dikuliti hidup-hidup oleh seorang tukang jagal”.

Ketika Nabi Ibrahim sedang sakaratul maut, Allah juga bertanya: “Wahai kekasihku, bagaimana kamu merasakan kematian?

Nabi Ibrahim menjawab: “Seperti tusukan besi yang dipanaskan lalu diletakkan di tengah bulu-bulu wol, lalu ditarik”.

Allah berfirman lagi: “Padahal Kami telah meringankan pedihnya sakaratul maut itu kepadamu wahai Ibrahim”.

Demikian juga dengan Rasulullah saw. Ketika beliau sedang sakaratul maut, beliau juga merasakan kesakitan, sampai—menurut penuturan Sayyidah Aisyah sebagaimana disebutkan dalam Hadits Shahih riwayat Imam Bukhari—beliau meletakkan tangannya di dalam wadah berisi air, lalu diusapkan ke wajah beliau, sambil bersabda: “Tidak ada tuhan selain Allah, sesungguhnya sebelum kematian itu ada sakaratul maut”.

Karena sakitnya inilah, Rasulullah saw mengajarkan satu doa penting kepada kita semua untuk dibaca sesering mungkin. Doanya adalah agar diringankan ketika sakaratul maut kelak. “Allôhumma hawwin ‘alainâ fî sakarôtil maut’ Ya Allah ringankan sakaratul maut untuk kami”, demikian di antara bunyi doa yang diajarkan oleh Rasulullah saw untuk kita semua. Tidak semata-mata Rasulullah saw mengajarkan doa di atas, melainkan karena sakaratul maut sangat menyakitkan.

Lalu apakah ada amalan yang dapat meringankan pedihnya sakaratul maut kelak? Jawabannya, ada. Di antaranya adalah dengan jalan berbuat baik kepada kedua orang tua, selagi mereka masih hidup di dunia fana ini.

Imam Ja’far as-Shaddiq pernah berkata: “Siapa yang menginginkan diringankan oleh Allah ketika sakaratul mautnya, maka hendaknya ia selalu menghubungkan silaturahim dengan kerabatnya, juga berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Jika ia melakukan demikian, maka Allah akan meringankan sakaratul mautnya, juga selama hidupnya tidak akan pernah terkena kefakiran ”.

Imam adz-Dzahabi dalam kitabnya al-Kabâir menceritakan satu kisah menarik—sekalipun kisah ini dinilai sebagai Hadits Dhaif oleh banyak ulama seperti oleh Imam Ahmad, Baihaki, Ibnul Jauzi, al-Mundziri, asy-Syaukani dan lainnya.

Dikisahkan, pada masa Rasulullah saw dahulu, hiduplah seorang pemuda yang sangat rajin beribadah. Namanya, ‘Alqamah.

Suatu hari ia sakit keras. Diutuslah isterinya untuk menemui Rasulullah saw.

Begitu sampai, isterinya langsung berkata kepada Rasulullah saw: “Ya Rasulullah, saya datang kemari bermaksud mengabarkan bahwa saat ini ‘Alqamah, suami saya, sedang sakit keras”.

Mendengar itu, Rasulullah saw segera mengutus ‘Ammâr, Shuhaib dan Bilal. Rasulullah saw berpesan kepada mereka: “Pergilah tengok dia, dan talqinkan kepadanya kalimat tahlil (yaitu bacaan: lâ ilâha illallôh, pent)”.

Berangkatlah semuanya menuju rumah ‘Alqamah. Begitu masuk, semuanya mendapatkan ‘Alqamah dalam keadaan sakaratul maut.

Melihat itu, semuanya langsung mentalqinkan ucapan: lâ ilâha illallôh. Namun, lidah ‘Alqamah tidak mau mengucapkannya. Seolah ada beban yang sangat berat yang mengganjal lidahnya untuk mengatakan kalimat tauhid dimaksud.

Segeralah mereka mengutus seseorang untuk menemui Rasulullah saw dan mengabarkan bahwa ‘Alqamah tidak mau mengucapkan kalimat tauhid.

Rasulullah saw pun segera bertanya: “Apakah salah satu dari kedua orang tuanya masih hidup?” Dikatakan kepada Rasulullah saw, bahwa ibunya masih hidup, hanya sudah sangat tua renta.

Rasulullah saw pun segera mengutus seseorang untuk menemui ibunya itu sambil berpesan: “Katakan kepadanya, jika memungkinkan dia pergi menemui Rasulullah saw. Namun jika tidak memungkinkan, diam saja di sana, biar Rasulullah saw yang akan menemuinya”.

Begitu sampai, utusan itu langsung menyampaikan pesan Rasulullah saw. Begitu disampaikan, si ibu langsung berkata: “Diriku adalah tebusan untuk Rasulullah saw. Aku lebih wajib untuk menemui beliau”. Berangkatlah si ibu tua itu menemui Rasulullah saw dengan berpegangan kepada tongkat yang digenggamnya.

Begitu sampai, ia langsung mengucapkan salam, dan Rasulullah saw segera menjawabnya. Rasulullah saw kemudian bersabda kembali: “Wahai Ibu ‘Alqamah, apakah ibu dapat berkata jujur kepadaku? Jika ibu berbohong, maka Allah akan menurunkan wahyu kepadaku. Bagaimana keadaan ‘Alqamah, putra ibu itu?”

Si Ibu menjawab: “Ya Rasulullah, anak saya itu sangat rajin beribadah, rajin berpuasa juga rajin bersedekah”.

Rasulullah saw kembali bertanya: “Lalu bagaimana dengan Ibu?”.

Si ibu menjawab: “Ya Rasulullah, saya membencinya”.

“Mengapa?”, tanya Rasulullah saw.

Si ibu kembali menjawab: “Ya Rasulullah, putraku itu lebih menyayangi isterinya dari pada saya. Bahkan ia telah berbuat durhaka kepadaku”.

Rasulullah saw kembali bersabda: “Sesungguhnya kebencian ibunya ‘Alqamah telah menghalangi ‘Alqamah mengucapkan syahadat”.

Rasulullah saw juga kembali bersabda: “Wahai Bilal, pergi dan kumpulkan kayu bakar untukku sebanyak mungkin”.

Si ibu kaget, lalu bertanya: “Ya Rasulullah, apa yang akan Anda lakukan?”

“Aku akan membakarnya di hadapan ibu”, jawab Rasulullah saw.

Si ibu kembali berkata: “Ya Rasulullah, hatiku tidak akan menerima jika putraku itu akan dibakar di hadapanku”.

Rasulullah saw kembali bersabda: “Wahai ibu ‘Alqamah, siksa Allah jauh lebih pedih dan lebih kekal. Allah baru akan mengampuninya jika ibu meridhainya. Demi diriku yang berada dalam kekuasaanNya, semua ibadah ‘Alqamah, baik shalat, puasa, ataupun shadaqahnya tidak akan bermanfaat baginya, jika ibu masih membencinya”.

Si ibu kembali berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah, para malaikat dan seluruh orang muslim yang hadir pada saat ini, bahwasannya aku telah meridhai putraku, ‘Alqamah”.

Mendengar itu, Rasulullah saw segera bersabda: “Wahai Bilal, pergilah dan lihatlah, apakah ‘Alqamah sudah dapat mengatakan lâ ilâha illallôh atau belum? Jika belum, maka boleh jadi ibu ‘Alqamah mengatakannya tidak sesuai dengan isi hati”.

Bilal pun bergegas menuju ‘Alqamah, dan begitu hampir sampai, terdengar dari dalam rumah, suara ‘Alqamah melafalkan: lâ ilâha illallôh. Bilal pun lalu masuk ke dalam rumah sambil berkata: “Wahai orang-orang, sesungguhnya kebencian ibunya ‘Alqamah telah menghalangi lidah ‘Alqamah untuk mengucapkan syahadat. Dan sesungguhnya keridhaannya, telah memudahkan lidah ‘Alqamah untuk mengucapkannya”.

Begitu selesai mengucapkan tahlil tersebut, ‘Alqamah pun meninggal dunia.

Rasulullah saw pun menghadiri proses pengurusan mayatnya. Beliau memerintahkan untuk segera dimandikan, dikafani, kemudian dikuburkan. Rasulullah saw juga turut menghadiri proses penguburannya.

Rasulullah saw kemudian berdiri di atas lobang kuburnya sambil bersabda: “Wahai segenap muhajirin dan anshar, siapa yang melebihkan isterinya dari pada ibunya, maka ia akan dilaknat oleh Allah, malaikat juga oleh seluruh manusia. Allah tidak akan menerima seluruh bentuk amal ibadahnya, keadilannya, kecuali jika ia bertaubat kepada Allah dan berbuat baik kepada ibunya, juga meminta ridhanya. Ridha Allah tergantung keridhaan ibunya, dan benci Allah juga tergantung kebenciannya”.

Demikian, bagaimana kebencian seorang ibu kepada putranya, membuat putranya itu merasakan sakitnya sakaratul maut lebih lama. Begitu ibunya memaafkan dan meridhai, ia pun langsung meninggal dengan mudah. Sungguh luar biasa besarnya manfaat dan pahala berbakti kepada kedua orang tua.

Karena itu, perlakukan keduanya dengan sangat baik, mumpung keduanya masih ada. Buatlah keduanya selalu tersenyum dan bahagia. Jangan pernah melakukan sesuatu yang membuat keduanya sedih, saki hati, kecewa apalagi menangis. Pastikan, ketika keduanya menitikan air mata, itu karena bahagia dan bangga dengan Anda, bukan karena sakit hati atau kecewa.

Butiran air mata yang keluar karena bahagia dan bangga, adalah untaian permata Anda kelak di Surga. Sebaliknya, jika butiran air mata itu karena sedih dan sakit hati karena anda, maka kelak akan menjadi percikan api neraka bagi Anda. “Orang tua anda adalah surga dan neraka anda”, demikian sabda Rasulullah saw. Semoga kita semua termasuk anak-anak yang selalu berbuat baik juga berbakti kepada kedua orang tua,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: