Islam Dan Pendidikan Remaja

Faktor-faktor yang berpengaruh dalam pendidikan remaja
soc

Pendidikan Remaja Muslim

Pendidikan Remaja Muslim

1. Keluarga

Keluarga merupakan factor pertama dan utama dalam pembentukan remaja. Dari keluargalah (maksudnya keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak) akhlak, agama, kepedulian Mendidik Remaja Muslimial si anak terbentuk. Sebuah keluarga (dalam hal ini ayah dan ibu) yang tidak memperhatikan ajaran Islam dalam hal makan, minum, bicara misalnya, akan membuat anak tersebut tidak berakhlak dengan baik juga ketika bergaul dengan masyarakat kelak. Untuk itu, pendidikan dan perhatian yang ditanamkan di keluarga merupakan factor sangat penting dalam pembentukan anak.

Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa seorang anak itu ketika dialahirkan dalam keadaan suci. Ayah dan ibunya lah yang membentuk dan membawa anak itu, apakah akan dijadikan seorang Yahudi, Majusi atau lainnya.

Dari hadits ini nampak, bahwa pada dasarnya semua anak adalah baik. Lalu muncul ada anak nakal, anak jahat dan baik, semua terkait dengan pendidikan yang diterapkan orang tuanya di dalam rumah. Untuk itu, pendidikan pertama dan utama adalah pendidikan di dalam rumah, karena akan sangat berpengaruh bagi kelanjutan si anak tersebut.

2. Keluaga besar (kerabat).

Faktor kedua yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan pendidikan remaja adalah keluarga besar. Keluarga besar dimaksudkan adalah keluarga yang lebih luas lagi tidak terbatas ayah, ibu dan anak saja.

Anak yang berasal dari keluarga yang mayoritas businessman, maka umumnya akan mempengaruhi si anak untuk menjadi businessman juga. Demikian juga dengan keluarga yang mayoritas bergelut dalam pendidikan, umumnya akan membentuk si anak menjadi orang yang bergelut dalam pendidikan juga, demikian seterusnya.

Dari sini nampak, bahwa keluarga besar sangat berpengaruh bagi pertumbuhan, pendidikan dan perkembangan si remaja ke depan. Untuk itu, keluarga perlu memperhatikan hal ini agar dapat memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik dari kebiasaan keluarganya itu, sehingga dapat memilih yang terbaik untuk disampaikan kepada putra putrid remajanya.

3. Lingkungan lebih luas lagi mencakup kampong, profinsi dan negara.

Faktor ini juga sangat berpengaruh bagi perkembangan dan pendidikan anak ke depan. Kampung tempat dia tinggal sangat berpengaruh dalam membentuk anak tersebut kedepannya. Kampung yang banyak pengajian, syiar Islam nya kuat, cenderung membawa anak tersebut juga perhatian akan agama.

Bahkan, keadaan alam di mana dia tinggal pun sangat mempengaruhinya. Anak yang tumbuh di daerah subur pertanian umumnya membuat anak tersebut tenang, kalem. Anak yang tumbuh di daerah gersang dan panas juga tandus, cenderung membuat anak tersebut keras dan berkeinginan tinggi. Demikian seterusnya.

Dari sini semakin jelas, bahwa lingkungan sangat berpengaruh bagi perkembangan dan kepribadian si remaja pada masa berikutnya, terutama ketika bergaul dengan masyarakat kelak.

Demikian di antara hal-hal penting yang sangat berpengaruh bagi pendidikan dan kepribadian para remaja. Berikutnya, siapa saja yang mempunyai kewajiban penting dalam pembentukan kepribadian dan pendidikan remaja ini? Di bawah ini penulis mencoba menjelaskannya.

Pihak-pihak yang berkewajiban mendidik para remaja

Dalam ajaran Islam, paling tidak ada tiga pihak penting yang mempunyai peranan dan kewajiban bagi pendidikan anak-anak, khususnya para remaja. Apabila tiga pihak ini melaksanakan kewajibannya dengan baik, maka insya Allah anak-anak, khususnya remaja akan menjadi manusia berhasil dunia akhirat. Ketiga pihak tersebut adalah:

1. Orang tua (ayah dan ibu).

Pihak pertama dan utama yang berkewajiban mendidik putra putri, termasuk para remaja, adalah orang tuanya. Islam mewajbkan orang tua untuk mendidik putra putrinya sebaik mungkin. Bahkan kewajiban pendidikan ini bukan saja ketika setelah dilahirkan, akan tetapi juga ketika masih di dalam perut ibunya.

Seorang ayah berkewajiban di sampang mendidiknya, juga memberikan nafkah, pakaian dan keperluan anggota keluarganya dengan sebaik mungkin. Allah berfirman:

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ…[البقرة: 233]

Artinya: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya” (QS. AL-Baqarah: 233).

Demikian juga dengan firmanNya:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا [النساء: 9]

Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (QS. an-Nisa: 9).

Selain ayat-ayat al-Qur’an di atas, Rasulullah saw juga dalam hadits-haditsnya banyak menceritakan tentang kewajiban pendidikan dari orang tua termasuk memberikan nafkah yang baik kepada anggota keluarganya. Di antara hadits-hadits dimaksud adalah:

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إن فى الجنة درجة لا يبلغها إلا ثلاثة: إمام عادل, أو ذو رحم وصول, أو ذو عيال صبور)) فقال علي بن أبي طالب: ما صبر ذي عيال؟ قال: ((لا يمن على أهله بما ينفق عليهم)) [رواه الديلمي]

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Kelak di surga ada tempat istimewa (derajat, tingkat) yang tidak akan dicapai kecuali oleh tiga kelompok orang: pemimpin yang adil, orang yang selalu menghubungkan silaturahim dengan kerabatnya dan orang yagn sabar dengan keluarganya”. Ali bin Abi Thalib lalu bertanya: “Apa yang dimaksud dengan sabar dengan keluarganya itu?” Rasulullah saw menjawab: “TIdak menyebut-nyebut (mengungkit-ngungkit) nafkah yang diberikan kepada anggota keluarganya” (HR. Dailamy).

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((ليس منا من وسع الله عليه, ثم قتر على عياله)) [رواه الديلمي]

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Tidak termasuk golonganku orang yang diluaskan rizkinya oleh Allah, akan tetapi pelit kepada keluarganya” (HR. Dailamy).

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((أحب العباد إلى الله أنفعهم لعياله)) [رواه عبد الله بن أحمد بن حنبل]

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Hamba yang paling disukai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi keluarganya” (HR. Abdullah bin Ahmad bin Hanbal).

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((زوجوا أبناءكم وبناتكم, حلوهن الذهب والفضة وأجيدوا لهن الكسوة, وأحسنوا إليهن بالنحلة ليرغب فيهن)) [رواه الحاكم]

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Nikahkanlah putra putri kalian, berikanlah perhiasan emas dan perak kepada mereka, berikanlah pakaian yang bagus kepada mereka, serta berikanlah hadiah yang bagus sehingga mereka (perempuan) indah dipandang” (HR. Hakim).

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((يؤتى الرجل من أمتي يوم القيامة وما له من حسنة ترجى له الجنة, فيقول الرب تبارك وتعالى: أدخلواه الجنة فإنه كان يرحم عياله)) [رواه ابن عساكر]

Rasulullah saw bersabda: “Kelak pada hari Kiamat, ada seseorang dari ummatku yang tidak mempunyai kebaikan sedikitpun yang dapat memasukkannya ke dalam surga. Allah lalu berfirman: “Masukkan dia ke dalam surga, kerena dia sangat menyayangi keluarganya” (HR. Ibnu Asakir).

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((أدبوا أولادكم على ثلاث خصال: حب نبيكم, وحب أهل بيته, وقراءة القرآن, فإن حملة القرآن فى ظل الله يوم لا ظل إلا ظله, مع أنبيائه وأصفيائه)) [رواه الديلمي]

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Didik anak-anak kalian tiga hal: Mencintai nabi, mencintai anggota keluarga dan membaca al-Qur’an, karena orang yang rajin membaca al-Qur’an akan berada dalam naungan Allah di mana kelak tidak ada naungan selain naunganNya bersama para Nabi dan orang-orang pilihanNya” (HR. Dailamy).

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((ما من أمتي أحد يكون له ثلاث بنات أو ثلاث أخوات يعولهن حتى يبن [أو ينفصلن عنه بالزواج] أو يمتن, إلا كان معي فى الجنة هكذا)) وجمع بين إصبعيه السبابة والوسطى [رواه الطبراني]

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada seorang ummatku yang memiliki tiga orang putri perempuan atau tiga saudari perempuan kemudian ia memeliharanya dengan baik sehingga ia berpisah karena telah menikah atau meninggal dunia, melainkan ia akan bersamaku kelak di surga”. Rasulullah saw lalu berisyarat dengan kedua jarinya: telunjuk dan jari tengah” (HR. Thabrany).

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((البنات هن المشفقات المجهزات المباركات, من كانت له ابنة واحدة جعلها الله له سترا من النار, ومن كانت عنده ابنتان أدخل الجنة بهما, ومن كانت عنده ثلاث بنات أو مثلها من الأخوات وضع عنه الجهاد والصدقة)) [رواه الديلمي]

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Anak-anak perempuan itu adalah pembawa kasih sayang dan berkah, siapa yang mempunyai seorang anak perempuan, maka Allah akan menjadikan penghalang baginya dari api neraka. Siapa yang mempunyai dua orang putri perempuan, Allah akan memasukkannya ke dalam surga, dan siapa yang mempunyai tiga orang anak perempuan atau tiga saudari perempuan, maka Allah akan mengangkat darinya kewajiban untuk jihad dan sedekah” (HR. Dailamy).

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((ساووا بين أولادكم فى العطية, فلو كنت مفضلا أحدا لفضلت النساء)) [رواه الطبراني]

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Berlaku adillah dalam memberikan hadiah kepada putra putri kalian. Kalau seandainya akau melebihkan seseorang, tentu aku akan melebihkan anak perempuan” (HR. Thabrany).

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((حق الولد على الوالد أن يحسن اسمه ويزوجه إذا أدرك, ويعلمه الكتاب)) [رواه الديلمي]

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Hak seorang anak dari ayahnya adalah memberikan nama yang bagus, menikahkannya apabila telah datang waktunya serta mengajarkan al-Qur’an” (HR. Dailamy).

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((اضربوا على الصلاة لسبع, واعزلوا فراشه لتسع, وزوجوه لسبع عشرة إن كان, فإذا فعل ذلك فليجلسه بين يديه ثم ليقل: لا جعلك الله علي فتنة فى الدنيا ولا فى الآخرة)) [رواه ابن السني]

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Pukullah putra putri kalian pada usia tujuh tahun apabila sulit untuk melakukan shalat, pisahkan tempat tidurnya apabila berusia sembilan tahun, serta nikahkanlah ketika berusia tujuh belas tahun apabila memungkinkan. Apabila semua itu telah dilakukan, maka suruh dia duduk di hadapan lalu katakana: “Semoga Allah tidak menjadikan kamu sebagai fitnah bagi saya baik di dunia maupun di akhirat” (HR. Ibnus Sunny).

2. Kerabat

Pihak kedua yang mempunyai kewajiban untuk mendidik para remaja adalah kerabat. Dalam banyak ayat al-Qur’an disebutkan, bahwa berbuat baik kepada kerabat adalah suatu keharusan. Termasuk dalam katagori berbuat baik adalah mendidik, mengarahkan sesame saudaranya. Perhatikan misalnya di antara firman-firman Allah di bawah ini:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا [ النساء: 36]

Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. an-Nisa: 36).

Demikian juga dalam ayat di bawah ini bahwa seseorang berkewajiban juga membantu secara financial terhadap kerabatnya:

وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَءَاتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ [البقرة: 177]

Artinya: “…Akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya…”(QS. Al-Baqarah: 177).

Membantu kerabat baik secara moril maupun materil merupakan kewajiban saudara lainnya, sekaligus hak kerabat. Allah berfirman:

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا [الإسراء: 26]

Artinya: “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros” (QS. al-Isra: 26).

Dalam ayat lain Allah berfirman:

وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ مِنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا [ النساء: 8]

Artinya: “Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik” (QS. an-Nisa: 8).

Mengapa demikian? Karena membantu kerabat termasuk di antara bentuk menghubungkan silaturahim yang diperintahkan oleh Allah:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا [ النساء: 1]

Artinya: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu” (QS. an-Nisa: 1).

Lalu apakah kerabat tersebut terbatas yang ada kaitan darah dan keluarga saja? Para ulama dalam hal ini berkata, bahwa kerabat ada dua bagian: Ada Rahim (kerabat) Umum yaitu saudara seagama dan ada Rahim Khusus (kerabat khusus) yaitu saudara yang ada ikatan darah dan keluarga.

Baik kepada saudara umum maupun khusus, tetap sama-sama wajib berbuat baik secara moril maupun materil.

Siapa kerabat yang harus didahulukan? Rasulullah saw bersabda:

عن رجل من بني يربوع قال: أتيت النبي صلى الله عليه وسلم فسمعته وهو يكلم الناس يقول: ((يد المعطى العليا, أمك وأباك وأختك وأخاك, ثم أدناك فأدناك)) [رواه أحمد]

Artinya: “Seorang laki-laki dari bani Yarbu’ berkata: “Saya mendatangi Rasulullah saw, dan beliau sedang berbicara di depan para sahabat: “Tangan orang yang memberi adalah tangan yang berada di atas, mulia. Dahulukan ibumu, ayahmu, saudari perempuanmu, saudara laki-laki, kemudian demikian seterusnya (yang paling dekat dahulu)” (HR. Ahmad).

Dalam hadits lain disebutkan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((من سره أن يبسط عليه رزقه, أو ينسأ فى أثره فليصل رحمه)) [رواه مسلم]

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang hendak dilapangkan rizkinya, dipanjangkan umurnya, maka perbanyaklah silaturahim” (HR. Muslim).

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((ما من ذنب أحرى أ، يعجل الله تعالى عقوبته فى الدنيا مع ما يدخره لصاحبه فى الآخرة من البغي وقطعية الرحم)) [رواه أحمد]

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada satu dosapun yang akan disegerakan siksanya oleh Allah di dunia di samping kelak di akhirat, selain orang yang bermusuhan dan orang yang memutuskan silaturahim” (HR. Ahmad).

3. Masyarakat muslim

Selain orang tua dan kerabat, masyarakat muslim lainnya pun mempunyai kewajiban untuk memperhatikan pendidikan dan kehidupan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan remaja dalam rangka menuju perbaikan untuk dunia akhirat. Termasuk di dalam kategori masyarakat muslim adalah pemerintah, yayasan, pribadi ataupun lainnya. Hal ini sebagaimana disebutkan,misalnya, dalam firman Allah di bawah ini:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ [ النحل: 90]

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran” (QS. an-Nahl: 90).

Bahkan dalam hadits di bawah ini lebih tegas lagi:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((ألا كلكم راع ومسئول عن رعيته, فالأمير الذي على الناس راع وهو مسئول عن رعيته. والرجل راع فى أهل بيته وهو مسئول عنهم. والمرأة راعية على بيت بعلها وولده وهي مسئولة عنهم, والعبد راع فى مال سيده وهو مسئول عنه. ألا فكلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته)) [رواه مسلم]

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Ingatlah, kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab akan orang-orang yang dipimpinnya. Penguasa adalah pemimpin bagi masyarakatnya dan akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dilakukan masyarakatnya itu. Suami pemimpin bagi anggota keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas anggota keluarganya. Isteri pemimpin atas rumah dan putra suaminya, ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang mereka lakukan. Budak belian adalah pemimpin atas harta majikannya dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Ingatlah, setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas orang-orang yang dipimpinnya’ (HR. Muslim).

Demikianlah tiga pihak penting yang mempunyai kewajiban dalam rangka mendidik, memperhatikan anak-anak, khususnya para remaja, demi keberlangsungan dan kebaikan kehidupan mereka baik di dunia maupun di akhirat.

Lalu apa saja pendidikan yang perlu disampaikan kepada putra putrid khususnya yang masih remaj? Sebelum membahas lebih jauh masalah tersebut, berikut penulis sampaikan terlebih dahulu sifat-sifat penting yang harus dimiliki oleh seorang pendidik.

Beberapa sifat penting seorang pendidik

Ada beberapa sifat penting yang seharusnya diperhatikan dan dimiliki oleh seorang pendidik, di antaranya:

1. Ikhlas
Seorang pendidik harus ikhlas semata-mata karena Allah dalam mendidik putra putrinya. Dengan modal ikhlas ini, maka pendidikan tidak akan terasa berat dan tidak akan ada rasa bosan. Segala sesuatu yang diawali dengan niat ikhlas karena Allah, maka hasilnya pun akan maksimal.

Rasulullah saw bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى…)) [رواه البخاري]

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung niatnya, dan segala sesuatu itu tergantung apa yang diniatkannya…” (HR. Bukhari).

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إن الله لا يقبل من العمل إلا ما كان له خالصا, وابتغي به وجهه)) [رواه أبو داود والنسائي]

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal seseorang kecuali yang didasari keikhlasan dan hanya mengharapkan keridhaanNya” (HR. Abu Daud dan Nasai).

2. Sabar
Rasulullah saw bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لأشج عبد القيس: ((إن فيك خصلتين يحبهما الله: الحلم والأناة)) [رواه مسلم]

Artinya: “Rasulullah saw bersabda kepada Asyaj Abdul Qais: “Ada dua hal dari diri kamu yang sangati disukai oleh Allah: Sabar dan Perlahan-lahan” (HR. Muslim).

3. Lembut dan tidak menggunakan kekerasan

Rasulullah saw bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إن الله رفيق يحب الرفق, ويعطي على الرفق ما لا يعطى على العنف, وما لا يعطى على ما سواه)) [رواه مسلم]

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah menyukai kelembutan, dan akan memberikan banyak kebaikan kepada orang yang berlaku lembut yang tidak akan diberikan kepada orang yang suka kasar juga tidak diberikan kepada orang lain selain orang yang lembut” (HR. Muslim).

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((من يحرم الرفق يحرم الخير كله)) [رواه مسلم]

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang tidak pernah berlaku lembut, maka ia tidak akan pernah mendapatkan kebaikan” (HR. Muslim).

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لعائشة: ((يا عائشة ارفقي, فإن الله إذا أراد بأهل بيت خيرا, دلهم على الرفق)) [رواه مسلم]

Artinya: “Rasulullah saw bersabda kepada Asiyah: “Wahai Aisyah berlaku lembutlah, karena Allah swt apabila bermaksud memberikan kebaikan kepada sebuah keluarga, Dia akan menunjukkan terlebih dahulu agar berbuat lembut” (HR. Muslim).

4. Hati yang penyayang

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إن لكل شجرة ثمرة, وثمرة القلب الولد, إن الله لا يرحم من لا يرحم ولده, والذي نفسي بيده لا يدخل الجنة إلا رحيم)). قلنا: يا رسول الله كلنا يرحم, قال: ((ليس رحمته أن يرحم أحدكم صاحبه, وإنما الرحمة أن يرحم الناس)) [رواه البزار]

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya setiap pohon itu ada buahnya, dan buah hati itu adalah anak. Allah tidak akan menyayangi orang yang tidak menyayangi putranya. Demi diriku yang berada di dalam kekuasaanNya, tidak akan masuk surga kecuali orang-orang penyayang”. Kami berkata: “Ya Rasulullah, kami satu sama lain saling menyayangi? Rasulullah saw menjawab: “Yang disebut dengan saying itu bukan semata seseorang menyayangi temannya, akan tetapi saying itu adalah menyayangi manusia umumnya” (HR. al-Bazzar).

Dalam hadits lain disebutkan, Rasulullah saw adalah orang yang paling saying kepada keluarganya.

عن أنس بن مالك قال: ما رأيت أحد كان أرحم بالعيال من رسول الله صلى الله عليه وسلم. قال: كان إبراهيم—ابن النبي—مسترضعا فى عوالى المدينة, فكان ينطلق ونحن معه, فيدخل البيت وإنه ليدخن فيأخذه فيقبله ثم يرجع [ رواه مسلم]

Artinya; “Anas bin Malik berkata: “Saya tidak mendapatkan orang yang paling saying kepada keluarganya selain Rasulullah saw. Suatu hari Ibrahim putra Rasulullah saw sedang disusui oleh seorang perempuan di ujung kota Madinah. Rasulullah saw lalu pergi bersama kami menuju tempat tersebut. Lalu beliau masuk ke dalam rumah, dan suami si perempuan yang menyusui tersebut sedang mengepulkan asap (tukang besi). Rasulullah saw lalu mengambil Ibrahim kemudian menciumnya, lalu beliau kembali lagi ke Madinah” (HR. Muslim).

5. Mengambil yang paling mudah dari dua hal selama tidak berdosa

Dalam sebuah hadits, Siti Aisyah berkata:

عن عائشة قالت: ما خير رسول الله صلى الله عليه وسلم بين أمرين قط, إلا أخذ أيسرهما ما لم يكن إثما, فإن كان إثما كان أبعد الناس منه [متفق عليه]

Artinya: “Aisyah berkata: “Rasulullah saw tidak memilih di antara dua hal melainkan beliau mengambil yang paling mudah selama tidak mengandung dosa. Apabila mengandung dosa, beliau adalah orang yang paling menjauhinya” (HR. Bukhari Muslim).

6. Tidak pemarah

Dalam hadits Bukhari disebutkan ketika seorang laki-laki minta wasiat khusus dari Rasulullah saw, beliau bersabda sebanyak tiga kali: “Jangan marah, jangan marah, jangan marah”.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: