Shalat

shalat

shalat

Pengertian shalat
Secara bahasa, shalat berarti doa (ad-du’â). Hal ini di antaranya berdasarkan firman Allah di bawah ini:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. At-Taubah: 103).

Dalam ayat di atas, kata shalat berarti doa.

Sedangkan secara istilah, shalat berarti ibadah yang terdiri dari ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan yang diketahui serta tertentu, yang diawali dengan takbiratul ihram, dan diakhiri dengan mengucapkan salam. Disebut shalat, karena di dalamnya mencakup doa (al-Mughni karya Ibnu Qudamah, 3/5).

Seluruh shalat adalah doa. Dan secara umum doa ini terbagi dua bagian:

Pertama, doa permintaan (doa mas’alah), yaitu doa untuk memohon hal-hal yang dapat bermanfaat bagi orang yang berdoa atau untuk menghindari, menjauhi madarat, serta memohon agar dipenuhi keperluan-keperluan hidupnya.

Kedua, doa ibadah. Doa ini dimaksudkan untuk mendapatkan pahala dari Allah atas perbuatan-perbuatan yang dilakukannya, baik berupa ruku, sujud, duduk dan lain sebagainya.
Kedua macam doa ini tercakup dalam seluruh gerakan dan ucapan shalat, karena itu ia dinamakan shalat yang berarti doa.

Hukum shalat lima waktu
Shalat yang wajib dilakukan dalam satu hari satu malam ada lima waktu, yakni Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh. Melakukan kelima shalat dimaksud, dalam ajaran Islam, hukumnya wajib, artinya apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala, dan apabila ditinggalkan, akan mendapatkan siksa.

Di antara dalil bahwa yang termasuk shalat wajib itu ada lima waktu, adalah hadits di bawah ini, ketika seorang sahabat bertanya ada berapa waktu shalat yang diwajibkan itu? Rasulullah saw menjawabnya sebagai berikut:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((خمس صلوات فى اليوم والليلة)). فقال السائل: هل علي غيرها؟ قال: ((لا, إلا أن تطوع)) [رواه البخارى]
Artinya: Rasulullah saw menjawab: “Shalat lima waktu sehari semalam”. Laki-laki itu bertanya kembali: “Apakah ada shalat lainnya?” Rasulullah saw menjawab: “Tidak ada, kecuali apabila kamu akan menambahkan dengan shalat sunnat” (HR. Bukhari).

Keutamaan dan kedudukan shalat dalam ajaran islam
Dalam ajaran Islam, shalat merupakan ibadah yang mempunyai keutamaan dan kedudukan sangat penting. Di antara keutamaan dan hal yang menunjukkan kedudukan sangat penting di maksud adalah:

1.Shalat merupakan tiang agama.
Tiang merupakan bagian sangat penting dalam sebuah bangunan. Sebuah bangunan tidak akan berdiri tegak dan kokoh, apabila tidak mempunyai tiang, atau apabila tiangnya tidak kuat. Demikian juga dengan agama. Agama tidak akan berdiri tegak, kuat, kokoh dan menjulang, apabila tidak mempunyai tiang yang kuat. Tiang agama dimaksud adalah shalat. Rasululah saw bersabda:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ)) [رواه الترمذي، 5/11، رقم الحديث (2616)، وقال: حديث حسن صحيح، وأخرجه ابن ماجه، برقم (3973)، وأحمد 5/231، وحسنه الألباني في إرواء الغليل، 2/138].
Artinya: “Dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah saw bersabda: “Kepala agama itu adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak penggapaiannya adalah jihad” (HR. Turmudzi, ia berkata: “Hadits ini Hadits Hasan Shahih”).

2.Shalat adalah amal yang paling pertama akan dihisab (diperhitungkan) kelak.
Apabila shalatnya bagus dan benar, maka akan bagus juga amal-amal ibadah lainnya. Sebaliknya, apabila shalatnya rusak, tidak bagus, maka tidak bagus juga seluruh amal perbuatan lainnya. Rasulullah saw bersabda:

عن أنس بن مالك قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة الصلاة، فإن صلحت صلح له سائر عمله، وإن فسدت فسد سائر عمله)) [رواه الطبراني في الأوسط، 1/409، برقم (532)، وقال العلامة الألباني في سلسلة الأحاديث الصحيحة، 3/346: ((وبالجملة فالحديث صحيح بمجموع طرقه والله أعلم))
Artinya: “Anas bin Malik berkata, Rasulullah saw bersabda: “Amal perbuatan hamba yang paling pertama akan dihisab kelak pada hari Kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya bagus dan benar, maka baguslah seluruh amal ibadah lainnya. Apabila shalatnya rusak, maka rusak juga seluruh amal lainnya” (HR. Thabrani dalam kitab al-Mu’jam al-Ausath, 1/409, hadits nomor: 532).

3.Shalat dapat mencuci, membersihkan dosa dan kesalahan,
sebagaimana mandi dapat membersihkan kotoran badan. Rasulullah saw bersabda:

عن جابر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((مثل الصلوات الخمس كمثل نهر غمر على باب أحدكم يغتسل منه كل يوم خمس مرات)) [رواه مسلم، 1/463، برقم: 668]
Artinya: “Jabir berkata, Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan shalat lima waktu itu seperti sebuah sungai besar yang bersih dan banyak airnya serta berada di dekat pintu rumah seseorang, lalu ia mandi di sungai tersebut lima kali dalam satu hari” (HR. Muslim).

Semakna dengan hadits di atas, Rasulullah saw juga pernah bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: وَفِى حَدِيثِ بَكْرٍ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ((أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَىْءٌ؟)). قَالُوا: لاَ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَىْءٌ. قَالَ: (( فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا)) [رواه مسلم]
Artinya: “Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: “Bagaimana menurut pendapat kalian, apabila ada sungai di dekat pintu rumah seseorang, yang mana ia mandi di sungai itu dalam satu hari, lima kali, apakah masih akan ada kotoran yang tersisa?” Para sahabat menjawab: “Tidak ya Rasullah, tidak akan tersisa sedikitpun kotoran di badannya”. Rasulullah saw kembali bersabda: “Itulah perumpamaan shalat lima waktu, di mana Allah menghapuskan dengan shalat lima waktu itu kesalahan-kesalahan hambaNya” (HR. Muslim).

4.Shalat dapat menutup kesalahan.
Rasulullah saw bersabda:

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((الصلوات الخمس، والجمعة إلى الجمعة، ورمضان إلى رمضان، مكفرات ما بينهن، إذا اجتنبت الكبائر)) [رواه مسلم، 1/209، برقم (233) ]
Artinya: “Abu Hurairah berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Shalat lima waktu, Jum’at kepada Jum’at lainnya, Ramadhan kepada Ramadhan lainnya, dapat menutup kesalahan-kesalahan di antara semuanya itu, selama tidak melakukan dosa besar” (HR. Muslim).

5.Orang yang selalu menjaga shalat dengan baik, akan mendapatkan cahaya baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Rasulullah saw bersabda:

عن عبد الله بن عمر، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((من حافظ عليها كانت له نورا وبرهانا ونجاة يوم القيامة، ومن لم يحافظ عليها لم يكن له نور، ولا برهان ولا نجاة، وكان يوم القيامة مع قارون، وفرعون، وهامان، وأبي بن خلف)) [رواه أحمد في المسند، 2/169؛ وقال الإمام المنذري في الترغيب والترهيب، 1/440: ((رواه أحمد بإسناد جيد))].
Artinya: “Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang menjaga shalat lima waktu, maka kelak di hari Kiamat, ia akan mendapatkan cahaya, bukti kebaikan dan keselamatan. Dan siapa yang tidak menjaga shalat lima waktu, maka ia tidak akan mendapatkan cahaya, bukti dan saksi kebaikan, juga tidak akan mendapatkan keselamatan. Bahkan, kelak di hari Kiamat ia akan dikumpulkan bersama Qarun, Fir’aun, Haman dan Ubay bin khalaf” (HR. Ahmad).

6.Shalat dapat mengangkat derajat dan menghapus kesalahan.
Rasulullah saw bersabda:

عن ثوبان مولى رسول الله صلى الله عليه وسلم، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((عليك بكثرة السجود فإنك لا تسجد لله سجدة إلا رفعك الله بها درجة وحط عنك بها خطيئة)) [رواه مسلم، 1/253، برقم: 488].
Artinya: “Dari Tsauban, mantan budak Rasulullah saw, bahwasannya Rasulullah saw pernah bersabda: “Perbanyaklah olehmu melakukan sujud (maksudnya shalat). Karena kamu tidak bersujud kepada Allah satu kali sujud pun, malainkan Allah akan mengangkatmu satu derajat, dan Allah juga akan menghapus satu kesalahan” (HR. Muslim).

7.Shalat di antara penyebab utama masuk ke surga bersama Rasulullah saw.
Rasulullah saw bersabda:

عن ربيعة بن مالك الأسلمى قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((سل)) فقلت: أسألك مرافقتك فى الجنة, فقال: ((أو غير ذلك؟)) قلت: هو ذاك, قال: ((فأعنى على نفسك بكثرة السجود)) [رواه مسلم]
Artinya: Rabi’ah bin Malik al-Aslamy berkata: Rasulullah saw bersabda: “Mintalah!”. Aku berkata: “Aku memohon kepadamu bagaimana caranya agar dapat menemani Anda kelak di dalam surga?” Rasulullah saw bersabda kembali: “Adakah hal lain yang kamu minta?” Aku menjawab: “Tidak ada, hanya itu saja”. Rasulullah saw lalu bersabda: “Perbanyaklah kamu melakukan sujud (Shalat sunnat)” (HR. Muslim).

8.Shalat adalah ibadah paling mulia setelah dua kalimat syahadat.
Rasulullah saw bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: أَىُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: ((الصَّلاَةُ لِوَقْتِهَا)). قَالَ: قُلْتُ: ثُمَّ أَىٌّ؟ قَالَ: ((بِرُّ الْوَالِدَيْنِ)). قَالَ: قُلْتُ: ثُمَّ أَىٌّ؟ قَالَ: ((الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ)) [متفق عليه: البخاري، برقم 7534، ومسلم برقم: 85].
Artinya: “Abdullah bin Mas’ud berkata: “Saya bertanya kepada Rasulullah saw: “Amal apa yang paling mulia?” Rasulullah saw bersabda: “Shalat pada waktunya”. Aku bertanya kembali: “Lalu apa lagi?” Rasulullah saw menjawab: “Berbuat baik kepada kedua orang tua”. Aku bertanya lagi: “Kemudian apa lagi ya Rasulullah?” Rasulullah saw bersabda kembali: “Jihad di jalan Allah” (HR. Bukhari Muslim).

9.Berjalan menuju mesjid untuk melakukan shalat dicatat sebagai kebaikan, menghapus kesalahan dan mengangkat derajat kemuliaan.
Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ((مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِىَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ، كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً، وَالأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً)) [رواه مسلم، 1/462، برقم: 666]

Artinya: “Abu Hurairah berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang berwudhu di rumahnya, lalu berjalan menuju salah satu rumah Allah (mesjid) untuk menunaikan shalat wajib, maka setiap langkah kaki yang satu dapat menghapus kesalahan, dan setiap langkah kaki yang satunya lagi dapat mengangkat derajat kebaikan” (HR. Muslim).

Dalam hadits lain Rasulullah juga bersabda:

عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ قَالَ: حَضَرَ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ الْمَوْتُ، فَقَالَ: إِنِّى مُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا مَا أُحَدِّثُكُمُوهُ إِلاَّ احْتِسَابًا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ((إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ، لَمْ يَرْفَعْ قَدَمَهُ الْيُمْنَى إِلاَّ كَتَبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ حَسَنَةً، وَلَمْ يَضَعْ قَدَمَهُ الْيُسْرَى إِلاَّ حَطَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهُ سَيِّئَةً، فَلْيُقَرِّبْ أَحَدُكُمْ أَوْ لِيُبَعِّدْ، فَإِنْ أَتَى الْمَسْجِدَ فَصَلَّى فِى جَمَاعَةٍ غُفِرَ لَهُ، فَإِنْ أَتَى الْمَسْجِدَ وَقَدْ صَلَّوْا بَعْضًا وَبَقِىَ بَعْضٌ صَلَّى مَا أَدْرَكَ وَأَتَمَّ مَا بَقِىَ، كَانَ كَذَلِكَ، فَإِنْ أَتَى الْمَسْجِدَ وَقَدْ صَلَّوْا فَأَتَمَّ الصَّلاَةَ كَانَ كَذَلِكَ)) [رواه أبو دادو، برقم 563].
Artinya: “Dari Sa’id bin al-Musayyib berkata: “Aku pernah menghadiri acara kematian seorang laki-laki Anshar, lalu ia berkata: “Aku akan menceritakan sebuah hadits, yang tidak aku sampaikan melainkan karena mengharapakan ridha Allah. Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Apabila seseorang berwudhu dengan sebaik mungkin, lalu keluar (menuju mesjid) untuk melakukan shalat (wajib), maka tidak ia angkat kaki kanannya melainkan Allah akan mencatat satu kebaikan baginya. Serta tidak ia letakkan ke tanah kaki kirinya melainkan Allah akan menghapuskan satu kesalahannya. Baik jarak tempatnya dengan mesjid itu dekat atau jauh (semakin jauh semakin besar pahalanya, karena semakin banyak langkah yang dipergunakannya). Jika ia datang ke mesjid, lalu ikut shalat berjamaah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya. Apabila ia datang ke mesjid, sementara sebagian orang-orang sudah selesai shalatnya, sedangkan sebagian yang lainnya belum selesai, lalu ia ikut bergabung berjamaah, kemudian melengkapi jumlah rakaat yang belum dikerjakannya, maka pahalanya pun sama dengan pertama (dosa-dosanya akan diampuni). Jika ia datang ke mesjid, dan orang-orang sudah selesai shalat berjamaah semuanya, lalu ia shalat sendirian di mesjid (tidak berjamaah), maka pahalanya pun sama dengan yang pertama” (HR. Abu Daud).

10.Setiap yang pergi dan pulang dari mesjid setelah shalat berjamaah, maka dipandang telah bertamu ke surga kelak.
Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم: (( مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَوْ رَاحَ، أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ نُزُلاً كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ)) [متفق عليه، البخاري، 1/182، برقم: 662؛ ومسلم، 1/463، برقم: 669].
Artinya: “Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang pergi menuju mesjid atau pulang dari mesjid (setelah shalat berjamaah), maka Allah akan menyiapkan baginya kelak di surga tempat khusus setiap kali ia pergi atau pulang dari padanya” (HR. Bukhari Muslim).

11.Allah akan mengampuni dosa-dosanya di antara shalat yang dilakukannya itu, dengan shalat lain setelahnya.
Rasulullah saw bersabda:

عن عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ قال: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: (( لاَ يَتَوَضَّأُ رَجُلٌ مُسْلِمٌ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ فَيُصَلِّى صَلاَةً، إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الصَّلاَةِ الَّتِى تَلِيهَا)) [رواه مسلم، 1/206، برقم: 227].
Artinya: “Utsman bin Affan berkata: “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Tidak berwudhu seseorang muslimpun dengan sebaik mungkin, lalu ia melakukan shalat, melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosanya di antara dia (melakukan shalat tersebut) dengan shalat berikutnya” (HR. Muslim).

12.Shalat juga dapat menghapus dosa dan kesalahan sebelumnya (yang telah lalu).
Rasulullah saw bersabda:

عن عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ قال: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ((مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا، إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ)) [رواه مسلم، 1/206، برقم: 228].
Artinya: “Utsman bin Affan berkata: “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada seorang muslimpun yang ketika datang waktu shalat wajib, lalu ia berwudhu dengan sebaik mungkin, dan ia mengerjakan shalat dengan penuh kekhusyu’an, termasuk dalam rukunya, melainkan semua itu merupakan penebus dosa-dosa sebelumnya, selama ia tidak melakukan dosa besar. Dan hal itu berlaku di semua waktu” (HR. Muslim).

13.Malaikat akan selalu mendoakannya, selama ia berada di tempat shalatnya itu.
Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ((صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِى سُوقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً، وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ، فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ، وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ، حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ، فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِى الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِىَ تَحْبِسُهُ، وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مَجْلِسِهِ الَّذِى صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ: (اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ) مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ)) [متفق عليه، البخاري، برقم: 2119؛ ومسلم، 1/459، برقم: 649].
Artinya: “Abu Hurairah berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Seseorang yang shalat berjamaah (di mesjid), maka lebih baik dari pada shalat di dalam rumahnya atau di pasarnya dengan pahala lebih dari dua puluh derajat. Seseorang yang berwudhu dengan baik serta benar, lalu ia datang ke mesjid dan tidak bermaksud lain selain shalat, maka tidak satu langkah pun digerakkan, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya, dan menghapus kesalahannya, sampai ia masuk ke dalam mesjid tersebut. Apabila ia telah masuk mesjid, (lalu duduk menunggu dimulainya shalat berjamaah) maka ia telah dihitung mendapatkan pahala shalat (sekalipun ia belum shalat, karena menunggu shalat berjamaah dimulai). Serta para malaikat akan mendoakannya selama ia duduk di tempat shalatnya itu. Para malaikat berdoa: “Ya Allah sayangilah dia, ampunilah segala dosa dan kesalahannya, serta terimalah taubatnya”, selama ia tidak menyakitinya (para malaikat dan orang muslim), juga selama tidak berhadats” (HR. Bukhari Muslim).

14.Duduk di mesjid menunggu shalat berjamaah, juga sudah dihitung sebagai sebuah persiapan untuk berjihad di jalan Allah.
Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: (( أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟)). قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: ((إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِد،ِ وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ)) [رواه مسلم، برقم: 251].

Artinya: “Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: “Maukah aku tunjukkan kepada kalian amalan yang dapat menghapus kesalahan dan mengangkat derajat kalian?” Para sahabat menjawab: “Tentu, mau ya Rasulullah”. Rasulullah saw bersabda: “Sempurnakanlah wudhu pada waktu-waktu tidak disukai (untuk berwudhu, seperti karena cuaca sangat dingin), serta perbanyaklah langkah menuju mesjid, serta menunggu waktu shalat berikutnya setelah ia shalat sebelumnya. Semua itu adalah ribat (yaitu sebuah ketaatan yang besar pahalanya)” (HR. Muslim).

15.Orang yang pergi untuk shalat berjamaah di mesjid, pahalanya sama dengan orang yang melakukan ibadah haji dalam keadaan ihram.
Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَبِى أُمَامَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: (( مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ، وَمَنْ خَرَجَ إِلَى تَسْبِيحِ الضُّحَى لاَ يُنْصِبُهُ إِلاَّ إِيَّاهُ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْمُعْتَمِرِ)) [رواه أبو داود، برقم: 558، وحسنه الألباني في صحيح سنن أبي داود، 1/111، وفي صحيح الترغيب، 1/127].
Artinya: “Dari Abu Umamah, Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang keluar rumah dalam keadaan bersuci (mempunyai wudhu) untuk melakukan shalat wajib (berjamaah di mesjid), maka pahalanya sama dengan pahala orang yang melakukan ibadah Haji dalam keadaan ihram. Siapa yang keluar untuk melakukan shalat Dhuha, dan ia tidak keluar melainkan untuk melakukan shalat Dhuha dimaksud, maka pahalanya sama dengan pahala orang yang melakukan umrah” (HR. Abu Daud).

16.Orang yang biasa shalat berjamaah di mesjid, lalu datang terlambat baik masih sempat masbuq ataupun sudah tertinggal shalat berjamaah, namun ia tetap pergi ke mesjid dan shalat di mesjid, maka pahalanya tetap sama dengan orang yang shalat berjamaah tadi.
Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: (( مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ثُمَّ رَاحَ فَوَجَدَ النَّاسَ قَدْ صَلَّوْا، أَعْطَاهُ اللَّهُ جَلَّ وَعَزَّ مِثْلَ أَجْرِ مَنْ صَلاَّهَا وَحَضَرَهَا، لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَجْرِهِمْ شَيْئًا)) [رواه أبو داود، برقم: 564، وصححه الألباني في صحيح سنن أبي داود، 1/113].
Artinya: “Abu Hurairah berkata: Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang berwudhu dengan sebaik mungkin, lalu ia pergi (menuju mesjid untuk shalat berjamaah), dan ia mendapati orang-orang telah selesai melakukan shalat berjamaah, maka Allah tetap akan memberikan pahala seperti pahala orang yang ikut shalat berjamaah tadi dengan tidak berkurang sedikitpun pahalanya itu” (HR. Abu Daud).

17.Shalat termasuk di antara hal penyebab masuk surga.
Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ((خَمْسٌ مَنْ جَاءَ بِهِنَّ مَعَ إِيمَانٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ: مَنْ حَافَظَ عَلَى الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ عَلَى وُضُوئِهِنَّ وَرُكُوعِهِنَّ وَسُجُودِهِنَّ وَمَوَاقِيتِهِنَّ، وَصَامَ رَمَضَانَ، وَحَجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً، وَأَعْطَى الزَّكَاةَ طَيِّبَةً بِهَا نَفْسُهُ، وَأَدَّى الأَمَانَةَ ». قَالُوا: يَا أَبَا الدَّرْدَاءِ، وَمَا أَدَاءُ الأَمَانَةِ؟ قَالَ: الْغُسْلُ مِنَ الْجَنَابَةِ [رواه أبو داود، رقم: 429، وحسنه الألباني في صحيح سنن أبي داود، رقم: 429، 1/126، 127].
Artinya: “Abu Darda berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Ada lima perkara yang apabila dilakukan dengan sebaik mungkin dengan penuh keimanan, maka ia akan masuk surga: menjaga shalat lima waktu dengan sebaik mungkin termasuk wudhu, ruku, sujud dan menjaga waktu-waktu melaksanakannya, puasa di bulan Ramadhan, haji bagi yang mampu melaksanakannya, mengeluarkan zakat dengan penuh keridhaan dan ketulusan, dan melakukan amanah”. Para sahabat bertanya: “Wahai Abu Darda, apa yang dimaksud dengan melakukan amanah itu?” Abu Darda menjawab: “Yaitu mandi junub (mandi besar)” (HR. Abu Daud).

Kekhususan shalat dari ibadah-ibadah lainnya

Ada beberapa kekhususan ibadah shalat apabila dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya. Kekhususan-kekhususan ini menunjukkan betapa shalat mempunyai nilai lebih apabila dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya. Di antara kekhususan-kekhususan dimaksud adalah:

1.Perintah shalat turun langsung dari Allah kepada Nabi Muhammad saw, tanpa melalui pelantaraan Malaikat Jibril. Sementara ibadah-ibadah lainnya turun dari Allah kepada Nabi Muhammad saw melalui pelantara Malaikat Jibril. Selain itu, shalat diturunkan perintahnya oleh Allah di atas langit ke tujuh (di Sidratul Muntaha) ketika beliau sedang melakukan peristiwa Isra Mi’raj, sedangkan ibadah-ibadah lainnya, diturunkan oleh Allah di bumi. Oleh karena itu, shalat sering disebut oleh para ulama sebagai mi’raj nya orang-orang mukmin (mi’râjul mu’minîn).

2.Shalat adalah wasiat paling akhir yang disampaikan Rasulullah saw ketika menjelang wafatnya. Bayangkan, di akhir hayat beliau, beliau sempat berwasiat, dan wasiat itu adalah agar menjaga shalat sebaik mungkin.
Dalam sebuah hadits disebutkan:

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ: كَانَ مِنْ آخِرِ وَصِيَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ((الصَّلاَةَ الصَّلاَةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ))، حَتَّى جَعَلَ نَبِىُّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُلَجْلِجُهَا فِى صَدْرِهِ وَمَا يَفِيضُ بِهَا لِسَانُهُ [رواه أحمد، 6/290، 311، 321، وصححه الألباني في إرواء الغليل، 7/238].
Artinya: “Ummu Salamah berkata: “Wasiat Rasulullah saw yang paling akhir adalah beliau bersabda:”(jagalah) shalat, (jagalah) shalat, dan (berlaku baiklah) kepada hamba sahayamu”. Rasulullah saw mengucapkannya dengan terputus-putus di dadanya, sampai ia menghembuskan lidahnya (wafat)” (HR. Ahmad).

3.Shalat adalah ibadah yang diperintahkan oleh Allah agar Nabi Muhammad dan ummatnya memerintahkan keluarganya untuk melaksanakannya, termasuk Allah memerintahkan agar sabar dalam menjalankannya. Dan, tidak ada ibadah lain yang sampai ditekankan perintahnya seperti shalat ini.
Allah berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
Artinya: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa” (QS. Thaha: 32).

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda:

عن عبد الله بن عمر قال: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ((مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ)) [رواه أبو داود، برقم: 495، وأحمد، 2/180، وصححه الألباني في إرواء الغليل، 2/7، 1/266].
Artinya: “Abdullah bin Umar berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melakukan shalat, keteika mereka berusia tujuh tahun. Berilah peringatan untuk melakukan shalat ketika mereka berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah di antara mereka tempat tidurnya” (HR. Abu Daud).

4.Orang yang tertidur atau shalat, tetap diperintahkan untuk mengqadha shalatnya. Ini menunjukkan pentingnya shalat di banding dengan ibadah lainnya.
Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ نَبِىُّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: (( مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا، فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا)) [متفق عليه، البخاري، برقم: 597، ومسلم برقم: 684].
Artinya: “Anas bin Malik berkata, Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang lupa atau tertidur sehingga tidak melakukan shalat, maka tebusannya adalah ia harus shalat manakala ia ingat (atau telah terbangun dari tidurnya)” (HR. Bukhari Muslim).

Bahkan, termasuk juga mereka yang pingsan atau koma, dengan catatan—menurut pendapat Ammar, Imran bin Hushain, Samurah bin Jundub sebagaimana dikutip oleh Ibnu Qudamah dalam al-Mughni nya (2/50-52)—tidak lebih dari tiga hari. Artinya, apabila seseorang pingsan atau koma selama satu hari atau dua atau tiga hari, maka ketika ia siuman dan sadar, ia harus mengqadha shalatnya selama ia pingsan atau koma tadi. Namun, apabila koma atau pingsannya lebih dari tiga hari, maka shalatnya tidak perlu diqadha, karena orang yang pingsan atau koma lebih dari tiga hari disamakan dengan orang gila dari sisi sama-sama hilang akalnya (diambil dari kumpulan fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz, yang dikumpulkan oleh DR. Abdullah at-Thayyar dan Syaikh Ahmad bin Abdul Aziz bin Baz (Majmû’ Fatâwâ Samâhah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bâz), 2/457).

5.Allah dalam al-Qur’an, langsung memuji orang-orang yang melaksanakan shalat dan orang-orang yang menyuruh orang lain, khususnya keluarganya, untuk melakukan shalat, sekaligus Allah mencela mereka yang menyia-nyiakan dan bermalas-malasan dalam menunaikannya. Dan ini tidak demikian dengan ibadah-ibadah lainnya.
Allah berfirman:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا. وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا
Artinya: “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh ummatnya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya” (QS. Maryam: 54, 55).

Sementara ayat yang mencela orang-orang yang menyia-nyiakan dan bermalas-malasan dalam menunaikan shalat adalah:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
Artinya: “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan” (QS. Maryam: 59).

Juga dalam ayat di bawah ini:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (QS. An-Nisa: 142).

6.Shalat diwajibkan dalam semua keadaan, selama masih hidup. Bahkan seseorang yang sakit parah pun, tetap diwajibkan melakukan shalat. Yang tidak dapat berdiri, shalat dapat dilakukan sambil duduk, tidak dapat sambil duduk, shalat dapat dilakukan sambil berbaring dan seterusnya. Sedangkan puasa, boleh ditinggalkan manaka sakit, demikian juga dengan haji dan zakat dilakukan apabila mampu dan harta telah mencapai nishab. Ini artinya bahwa shalat merupakan ibadah special dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya.

7.Shalat merupakan ibadah yang diwajibkan kepada seluruh para nabi dan Rasul. Tidak ada seorangpun nabi dan Rasul, melainkan juga diwajibkan melakukan shalat. Hanya, cara dan waktu serta jumlah bilangannya berbeda dengan apa yang disyariatkan kepada Nabi Muhammad saw beserta ummatnya.

Nabi Musa misalnya, ketika Allah berfirman langsung dengannya di Bukit Sinai, ibadah pertama yang Allah sampaikan, firmankan dan wajibkan kepadanya adalah agar mendirikan shalat. Dan tidak ada kewajiban lainnya yang diperintahkan pertama kali oleh Allah kepada Nabi Musa saat itu, selain shalat.
Perhatikan firman Allah di bawah ini:

وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ مُوسَى (9) إِذْ رَأَى نَارًا فَقَالَ لِأَهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آنَسْتُ نَارًا لَعَلِّي آتِيكُمْ مِنْهَا بِقَبَسٍ أَوْ أَجِدُ عَلَى النَّارِ هُدًى (10) فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ يَا مُوسَى (11) إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى (12) وَأَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى (13) إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Artinya: “Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: “Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu”. Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa, Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (QS. Thaha: 9-14).

Demikian juga, hal pertama yang diperintahkan oleh Nabi Musa kepada Bani Israil saat itu, setelah perintah untuk mengimaninya sebagai utusan Allah, juga agar mereka mendirikan shalat.
Allah berfirman:

وَأَوْحَيْنا إِلى مُوسى وَأَخِيهِ أَنْ تَبَوَّءا لِقَوْمِكُما بِمِصْرَ بُيُوتاً وَاجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
Artinya: “Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: “Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu sembahyang serta gembirakanlah orang-orang yang beriman”. (QS. Yunus (10): 87).

Demikian juga dengan Nabi Isa as. Ketika ia dapat berbicara padahal masih berupa bayi merah saat itu, ia pun mengatakan bahwa di antara ibadah pertama yang diwajibkan oleh Allah kepadanya, juga kepada ummatnya adalah shalat.
Allah berfirman:

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا (30) وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا (31) وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا
Artinya: “Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka” (QS. Maryam, 30-32).

Nabi Ibrahim pun demikian. Ketika ia pergi membawa Nabi Ismail dan Hajar lalu ditempatkan di sebuah lembah yang tidak ada satupun manusia atau teman, Nabi Ibrahim berdoa, dan di antara doanya adalah agar mendirikan shalat:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim: 37).

Demikian juga dalam ayat lainnya, Allah juga berfirman:

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud” (QS. Al-Hajj: 26).

Kata al-Qâimiina (yang mendirikan) dalam ayat di atas, menurut Qatadah maksudnya adalah orang-orang yang mendirikan shalat.

Demikian juga dengan Nabi Ismail, Ishak, Ya’kub, dan Nabi Zakaria, mereka pun telah diperintahkan oleh Allah untuk melakukan shalat, sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat di bawah ini:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا. وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا
Artinya: “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh ummatnya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya” (QS. Maryam: 54, 55).

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً وَكُلًّا جَعَلْنَا صَالِحِينَ (72) وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ
Artinya: “Dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshak dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah” (QS. Al-Anbiya: 72, 73).

فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ
Artinya: “Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh” (QS. Ali Imran: 39).

Demikian juga, Allah memerintahkan shalat kepada Siti Maryam:

يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ
Artinya: “Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’ (maksudnya: shalatlah dengan berjama’ah” (QS. Ali Imran: 39).

Demikian juga dengan Luqman, di antara isi wasiat kepada putra putrinya adalah mendirikan shalat:

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Artinya: “Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (QS. Luqman: 17).

Demikian juga dengan Nabi Daud as, ketika ia melakukan kesalahan dan hendak bertaubat, tidak ada cara yang paling tepat untuk taubatnya itu, selain shalat.
Allah berfirman:

وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ
Artinya: “… Dan Daud mengetahui bahwa kami mengujinya; Maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat” (QS. Shad: 24).

Demikian juga dengan Nabi Yunus as, Allah juga telah mewajibkan shalat kepadanya. Bahkan, di antara sebab Nabi Yunus diselamatkan oleh Allah dari dalam perut ikan paus itu adalah karena ia termasuk orang yang rajin melakukan shalatnya, sebagaimana dalam firmanNya di bawah ini:

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ (143) لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
Artinya: “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah (mendirikan shalat), niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit” (QS. Ash-Shaffat: 143, 144).

Ibnu Abbas mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan minal musabbihîn (banyak mengingat Allah) dalam ayat di atas adalah minal mushallîn, yaitu yang rajin mendirikan shalat.
Demikian juga dengan Nabi Syu’aib, shalat sudah diwajibkan kepadanya.
Allah berfirman:

قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ إِنَّكَ لَأَنْتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ
Artinya: “Mereka berkata: “Hai Syu’aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat Penyantun lagi berakal” (QS. Hud: 87).

Bahkan, dalam ayat di bawah ini, Allah lebih menegaskan lagi bahwa shalat ini sudah diwajibkan kepada seluruh para Nabi keturunan Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, termasuk di dalamnya Nabi Muhammad saw.
Allah berfirman:

أُولئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْراهِيمَ وَإِسْرائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنا وَاجْتَبَيْنا إِذا تُتْلى عَلَيْهِمْ آياتُ الرَّحْمنِ خَرُّوا سُجَّداً وَبُكِيًّا
Artinya: “Mereka itu adalah orang-orang yang Telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang Telah kami beri petunjuk dan Telah kami pilih. apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis” (QS. Maryam: 58).

Dari pemaparan di atas, nampak bahwa ibadah shalat merupakan kewajiban yang sudah disampaikan oleh Allah kepada seluruh para Nabi, sejak Nabi Adam as, sampai Nabi Muhammad saw. Ini menunjukkan betapa sangat pentingnya ibadah shalat ini, dan mempunyai kekhususan yang sangat special apabila dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya.

Hanya saja, sebagaimana telah disinggung di awal, shalat-shalat tersebut berbeda-beda dalam cara, waktu dan bentuknya antara satu Nabi dengan nabi lainnya. Umumnya shalat yang diwajibkan kepada para Nabi sebelum Nabi Muhammad saw ini hanya beberapa waktu saja, pagi dan sore hari, juga ada yang dua rakaat di awal siang, dan dua rakaat di akhir siang. Termasuk berbeda dalam cara ruku, sujud dan lainnya. Dan begitu Rasulullah saw diutus, maka gerakan shalat disempurnakan oleh Allah, sebagian besarnya mencakup bentuk-bentuk shalat para nabi sebelumnya.
Dalam kitab al-Iqnâ’, karya Imam Syarbinî asy-Syafi’i dinukil sebuah riwayat dari kitab Syarh al-Musnad karya Imam Rafi’i, yang mengatakan seperti di bawah ini:

إن الصبح كانت صلاة آدم، والظهر صلاة داود، والعصر صلاة سليمان، والمغرب صلاة يعقوب، والعشاء صلاة يونس، فجمع الله سبحانه وتعالى ذلك لنبينا محمد صلى الله عليه وسلم تعظيما له، ولكثرة الأجور له ولأمته.
Artinya: “Shalat Shubuh adalah shalatnya Nabi Adam as dahulu, shalat Zhuhur adalah shalatnya Nabi Daud, Shalat Maghrib adalah shalatnya Nabi Ya’kub, shalat Isya adalah shalatnya Nabi Yunus. Allah lalu mengumpulkan semuanya itu untuk nabi kita, Nabi Muhammad saw, sebagai penghormatan kepada Rasulullah saw, juga karena banyaknya pahala untuk beliau dan ummatnya”.

::Shalat Dan Kesehatan::

Di antara kelebihan dan keutamaan shalat, ia dapat bermanfaat dan mempunyai pengaruh serta makna luar biasa apabila ditinjau dari beberapa aspek. Salah satunya adalah dari sisi kesehatan. Shalat, ternyata menurut para pakar kesehatan, mempunyai dampak yang sangat luar biasa terhadap kesehatan. Mulai dari gerakan, bacaan, konsentrasi dan lain sebagainya.
Hanya, perlu penuli sampaikan, bahwa dampak kesehatan bukan tujuan dari shalat. Shalat bukanlah senam semata. Tujuan utama dari shalat adalah beribadah kepada Allah, adapun manfaat dari segi kesehatan atau lainnya adalah nomor kesekian. Ini artinya, jangan sampai terjadi misalnya, lantaran tidak ada nilai positif dari shalat itu sendiri dari segi kesehatan, lalu seseorang tidak melakukan shalat. Ini tentu tidak dibenarkan. Baik ada sisi manfaat ataupun tidak dari segi kesehatan, shalat tetap harus dilakukan, karena tujuan utama dari melakukan shalat bukan seperti senam, demi meraih kesehatan dan kebugaran jasmani, akan tetapi untuk beribadah kepada Allah.

Namun, tentu tidak semata Allah mensyariatkan sesuatu kepada hamba-hambaNya, melainkan ada banyak hal positif dari berbagai segi untuk yang melakukannya itu. Dan tidak mungkin, Allah membebankan dan mewajibkan sesuatu kepada makhlukNya dengan maksud tidak baik bagi hamba-hambaNya itu. Yang ada sebaliknya, dengan kewajiban, justru merupakan nilai sangat baik dan positif bagi yang melakukannyal dari berbagai sisi.

Mengingat bahasan shalat dari sisi kesehatan ini perlu dari sumbernya langsung yang ahli dalam kesehatan, berikut ini penulis mencoba mengetengahkan dua artikel yang hemat penulis, sangat bagus tentang tema dimaksud. Artikel ini diambil dari internet, dengan tanpa ada nama penulisnya. Hanya saja, artikel ini ada di website kesehatan. Untuk mendapatkan artikel ini, cukup dengan memasukkan kata kunci: ‘Shalat dan Kesehatan’ di google, baru search. Berikut artikel dimaksud, semoga menjadi bahan diskusi penting kita dalam kesempatan kali ini:

Artikel Pertama: FAEDAH GERAKAN SHALAT
Memang, segala macam perintah Tuhan itu ternyata kembali untuk kebaikan kita juga baik sewaktu di dunia maupun di akhirat. Salat adalah amalan ibadah yang paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia. Gerakan-gerakannya sudah sangat melekat dengan gestur (gerakan khas tubuh) seorang muslim. Namun, pernahkah terpikirkan manfaat masing-masing gerakan?
Sudut pandang ilmiah menjadikan salat gudang obat bagi berbagai jenis penyakit! Saat seorang hamba telah cukup syarat untuk mendirikan salat, sejak itulah ia mulai menelisik makna dan manfaatnya. Sebab salat diturunkan untuk menyempurnakan fasilitasNya bagi kehidupan manusia. Setelah sekian tahun menjalankan salat, sampai di mana pemahaman kita mengenainya?

TAKBIRATUL IHRAM
Postur: berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar telinga, lalu melipatnya di depan perut atau dada bagian bawah.
Manfaat: Gerakan ini melancarkan aliran darah, getah bening (limfe) dan kekuatan otot lengan. Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancar ke seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancar. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas.

RUKUK
Postur: Rukuk yang sempurna ditandai tulang belakang yang lurus sehingga bila diletakkan segelas air di atas punggung tersebut tak akan tumpah. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang.

Manfaat: Postur ini menjaga kesempurnaan posisi dan fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat saraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. tangan yang bertumpu di lutut berfungsi relaksasi bagi otot-otot bahu hingga ke bawah, & latihan kemih untuk mencegah gangguan prostat.

I’TIDAL
Postur: Bangun dari rukuk, tubuh kembali tegak setelah mengangkat kedua tangan setinggi telinga
Manfaat: i’tidal adalah variasi postur setelah rukuk dan sebelum sujud. Gerak berdiri bungkuk berdiri sujud merupakan latihan pencernaan yang baik. Organ organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Efeknya, pencernaan menjadi lebih lancar.

SUJUD
Postur: Menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi pada lantai.
Manfaat: Aliran getah bening dipompa ke bagian leher dan ketiak. Posisi jantung di atas otak menyebabkan darah kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Karena itu, lakukan sujud dengan tuma’ninah, jangan tergesa gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Postur ini juga menghindarkan gangguan wasir. Khusus bagi wanita, baik rukuk maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan.

DUDUK
Postur: Duduk ada dua macam, yaitu iftirosy (tahiyyat awal) dan tawarruk (tahiyyat akhir). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki.
Manfaat: Saat iftirosy, kita bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan syaraf nervus Ischiadius. Posisi ini menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Duduk tawarruk sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih (urethra), kelenjar kelamin pria (prostata) dan saluran vas deferens. Jika dilakukan dengan benar, postur ini mencegah impotensi. Variasi posisi telapak kaki pada iftirosy dan tawarruk menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga. kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak kita.

SALAM
Postur: Memutar kepala ke kanan dan ke kiri secara maksimal.
Manfaat: Relaksasi otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran darah di kepala. Gerakan ini mencegah sakit kepala dan menjaga kekencangan kulit wajah.

BERIBADAH secara, kontinyu bukan saja menyuburkan iman, tetapi mempercantik diri wanita luar dalam.

PACU KECERDASAN
Gerakan sujud dalam salat tergolong unik. Falsafahnya adalah manusia menundukkan diri serendah-rendahnya, bahkan lebih rendah dari pantatnya sendiri. Dari sudut pandang ilmu psikoneuroimunologi (ilmu mengenai kekebalan tubuh dari sudut pandang psikologis) yang didalami Prof Sholeh, gerakan ini mengantar manusia pada derajat setinggi-tingginya. Mengapa? Dengan melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih untuk menerima banyak pasokan darah.

Pada saat sujud, posisi jantung berada di atas kepala yamg memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Itu artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tumaninah dan kontinyu dapat memacu kecerdasan. Risetnya telah mendapat pengakuan dari Harvard Universitry, AS. Bahkan seorang dokter berkebangsaan Amerika yang tak dikenalnya menyatakan masuk Islam setelah diam-diam melakukan riset pengembangan khusus mengenai gerakan sujud.

PERINDAH POSTUR
Gerakan-gerakan dalam salat mirip yoga atau peregangan (stretching). Intinya untuk melenturkan tubuh dan melancarkan peredaran darah. Keunggulan shalat dibandingkan gerakan lainnya adalah salat menggerakan anggota tubuh lebih banyak, termasuk jari kaki dan tangan.

Sujud adalah latihan kekuatan untuk otot tertentu, termasuk otot dada. Saat sujud, beban tubuh bagian atas ditumpukan pada lengan hingga telapak tangan. Saat inilah kontraksi terjadi pada otot dada, bagian tubuh yang menjadi kebanggaan wanita, tak hanya menjadi lebih indah bentuknya tetapi juga memperbaiki fungsi kelenjar air susu di dalamnya.

MUDAHKAN PERSALINAN
Masih dalam pose sujud, manfaat lain bisa dinikmati kaum hawa. Saat pinggul dan pinggang terangkat melampaui kepala dan dada, otot-otot perut (rectus abdominis dan obliquus abdominis externuus) berkontraksi penuh.

Kondisi ini melatih organ di sekitar perut untuk mengejan lebih dalam dan lama. Ini menguntungkan wanita karena dalam persalinan dibutuhkan pernapasan yang baik dan kemampuan mengejan yang mencukupi. Bila, otot perut telah berkembang menjadi lebih besar dan kuat, maka secara alami ia justru lebih elastis. Kebiasaan sujud menyebabkan tubuh dapat mengembalikan serta mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali (fiksasi)

PERBAIKI KESUBURAN
Setelah sujud adalah gerakan duduk. Dalam salat ada dua macam sikap duduk, yaitu duduk iftirosy (tahiyyat awal) dan duduk tawarruk (tahiyyat akhir). Yang terpenting adalah turut berkontraksinya otot-otot daerah perineum. Bagi wanita, inilah daerah paling terlindung karena terdapat tiga lubang, yaitu liang persenggamaan, dubur untuk melepas kotoran, dan saluran kemih.

Saat duduk tawarruk, tumit kaki kiri harus menekan daerah perineum. Punggung kaki harus diletakkan di atas telapak kaki kiri dan tumit kaki kanan harus menekan pangkal paha kanan. Pada posisi ini tumit kaki kiri akan memijit dan menekan daerah perineum. Tekanan lembut inilah yang memperbaiki organ reproduksi di daerah perineum.

AWET MUDA
Pada dasarnya, seluruh gerakan salat bertujuan meremajakan tubuh. Jika tubuh lentur, kerusakan sel dan kulit sedikit terjadi. Apalagi jika dilakukan secara rutin, maka sel-sel yang rusak dapat segera tergantikan. Regenerasi pun berlangsung lancar. Alhasil, tubuh senantiasa bugar.

Gerakan terakhir, yaitu salam dan menengok ke kiri dan kanan punya pengaruh besar pada kekencangan. kulit wajah. Gerakan ini tak ubahnya relaksasi wajah dan leher. Yang tak kalah pentingnya, gerakan ini menghindarkan wanita dari serangan migrain dan sakit kepala lainnya

Artikel Kedua: SHALAT DAN KESEHATAN
Beberapa seminar di Timur Tengah yang membahas kaitan antara shalat dan kesehatan berkesimpulan bahwa, ternyata rutinitas shalat yang baik tidak hanya bernilai ibadah dan ruhani ;menggugurkan kewajiban, lalu mendapat pahala, menenangkan jiwa dan menghilangkan stress, tapi juga berdampak sangat positif bagi kesehatan dan kebugaran tubuh.
Di antara faedahnya:
– shalat bisa mencegah serangan jantung
– menghindarkan pendarahan otak
– membantu kinerja paru-paru
– memompa efektivitas sistem kerja ginjal
– shalat juga berguna menguatkan otot-otot tubuh dan sendi
– membantu relaksasi
– meningkatkan kelenturan
– memperlancar peredaran darah, sehingga fungsi organ tubuh berjalan baik.

Ringkasnya, semua persiapan demi melaksanakan shalat, baik itu syarat shalat: mulai wudlu dan sebagainya, juga gerakan-gerakan yang ada dalam shalat, baik yang bersifat wajib, maupun yang sunah, berdampak membantu meningkatkan kualitas kerja organ-organ tubuh, tanpa terkecuali. Kesimpulan ini, salah satunya mengemuka dalam muktamar ke-7, Organisasi al-Ijaz al-Ilmi –sebuah lembaga yang mengkhususkan diri meneliti rahasia dan keajaiban ilmu pengetahuan yang ada dalam kandungan al-Qur’an dan hadis, di Dubai, Qatar.
Dalam muktamar itu, misalnya, menjelaskan Kenapa Islam mewajibkan wudlu? Kenapa sih Islam mewajibkan shalat? Apa dampaknya bagi kesehatan?

Wudlu dan Kesehatan

Begitu air dingin membasuh anggota wudlu, maka secara otomatis pembuluh darah bereaksi untuk bekerja lebih cepat dan gesit mengalirkan darah ke seluruh tubuh sebagai reaksi alami menormalisasi suhu tubuh, akibat bertemunya suhu panas dalam tubuh dengan dinginnya guyuran air wudlu. Saat itu juga darah mengalir ke daerah seputar wajah, kedua tangan dan tepak kaki dengan sangat lancar.

Ketika aliran darah mengalir ke seluruh tubuh, termasuk pada bagian kulit, maka kelenjar peluh langsung bekerja menyedot darah-darah kotor dan membuangnya keluar tubuh melalui bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar kulit.

Begitu darah kotor itu keluar, walau tidak kasat mata, maka langsung disapu air wudlu; inilah mungkin rahasianya kenapa kita disunahkan membasuh tiga kali pada setiap anggota wudlu. Dampaknya kulit sekitar wajah dan lainnya nampak cantik dan putih berseri sehingga penuaan dini bias terhindarkan.

Biasanya, proses penyaringan dan pembuangan darah-darah kotor dilakukan oleh ginjal, kemudian dibuang bersamaan dengan air seni. Namun ketika seseorang melakukan wudlu, darah-darah kotor itu tertarik dan terkonsentrasi pada sekitar anggota-anggota wudlu yang sudah dibasuh dan kemudian disapu bersih oleh air wudlu berikutnya; basuhan kedua dan ketiga. Artinya, berwudlu ternyata mengurangi sedikit beban berat kerja ginjal dan dampaknya bisa meminimalisir kemungkinan terkena risiko sakit ginjal.

Salah tugas jantung yang paling berat adalah memompa darah supaya mengalir menuju wajah, telapak tangan, dan kaki. Kenapa? Karena posisi ketiga anggota tubuh tersebut jauh dari posisi jantung; yang berada di rongga dada. Begitu tersentuh air wudlu yang dingin, maka jantung langsung bereaksi dan kemudian memompa darah dengan kuat menuju tiga anggota badan yang berjauhan itu. Dengan demikian wudlu tak hanya semata kewajiban agama, tapi juga membantu meringankan beban berat kerja jantung. Akhirnya risiko terkena serangan jantung pun relatif bisa terhindarkan.

Wudlu dengan air dingin, juga membantu merangsang dan mengefektifkan sistem kerja syaraf. Rangsangan tadi, akan berdampak positif pada kinerja syaraf pusat yang berada di otak. Tak heran makanya kalau setelah wudlu kita selalu merasakan suasana segar, yang tak dirasakan sebelum wudlu. Dengan demikian faedah lain dari wudlu adalah sanggup mengurangi ketegangan jiwa, stress, mengurangi rasa sedih, rasa khawatir dan rasa marah.

Faedah inilah mungkin yang menjelaskan kenapa Rasulullah Saw, selalu menganjurkan kita untuk segera berwudlu ketika kita sedang emosi, terutama lagi pada hakim yang sedang dalam proses mengadili sebuah perkara.

Shalat dan Kesehatan
Coba perhatikan dan renungkan gerakan-gerakan olahraga yang direkomendasikan para pakar kesehatan, hampir semuanya tercakup dalam gerakan shalat. Makanya, seperti halnya olahraga, gerakan shalat juga akan membantu memperingan kinerja jantung, memperlancar asupan oksigen ke dalam tubuh dan membuat otak menjadi segar bugar.

Shalat juga membantu kerja jantung. Ia selalu bekerja tanpa henti mengatur sirkulasi darah dan mengalirkannya kepada semua organ tubuh. Hal yang dirasa paling berat dari kinerja jantung adalah bagaimana memompa dan mengalirkan darah menuju organ tubuh yang posisinya lebih atas dari jantung. Misalnya otak, mata, hidung, lisan dan sebagainya. Karena posisi jantung sendiri ada dirongga dada. Artinya dengan fungsi harus mengalirkan darah kepada daerah yang lebih tinggi, jantung harus bekerja keras melawan gaya gravitasi bumi.

Dengan melakukan sujud ketika shalat maka, sadar atau tak sadar, kerja jantung akan terbantu dalam tugasnya mengalirkan darah pada sekitar organ-organ yang posisinya lebih tinggi. Karena saat bersujud otomatis organ-organ yang tadinya di atas jantung itu, menjadilebih rendah posisinya. Maka, anjuran Islam untuk agak memperlama sujud dengan melakukan doa, selain bernilai ibadah juga menyehatkan tubuh karena membantu meringankan beban kerja jantung.

Saat bersujud pompaan aliran darah persis seperti mobil yang ada pada posisi jalan menurun cepat dan lancar. Dengan demikian aliran darah makin cepat mengalir dan berkumpul di pembuluh darah besar atau aorta. Ketika bangkit dari sujud, maka darah yang tadinya berkosentrasi di aorta akan mengaliri pembuluh-pembuluh darah di sekujur tubuh. Jantung pun akhirnya merasa terbantu.

Posisi sujud juga membantu kinerja paru-paru untuk melakukan asupan oksigen pada tubuh dan membuang karbondioksida. Juga membantu sirkulasi darah dari jantung ke paru-paru dan sebaliknya. Pada saat sujud, beban kerja jantung agak berkurang. Artinya jantung bisa sedikit beristirahat dan efeknya hal ini tentu akan mengurangi resiko terkena serangan jantung mendadak.

Perlu diketahui juga, bahwa shalat yang dijalankan dengan penuh kesungguhan, khusu’ dan ikhlas akan menumbuhkan persepsi, dan motivasi positif dan terhindar dari penyakit jantung koroner atau prediksi prognosis infark miokard akut. Gejala yang bisa dilihat bahwa pengamal shalat yang baik, akan menghadapi hidup secara realistis dan optimis. Dengan shalat yang baik kita akan merasakan bahwa Allah SWT, adalah segala-galanya. Dan dengan demikian kita akan terhindar dari rasa takut dan khawatir.

Namun Islam sebagai agama moderat tentu tak mewajibkan umatnya melaksanakan shalat sepanjang hari. Islam selalu memerintahkan untuk menyeimbangkan antara hak dan kewajiban, antara kebutuhan agama dan kebutuhan duniawi.

Walhasil, shalat selain bernilai ibadah juga membawa dampak positif bagi kesehatan tubuh dan pikiran. Kelebihan shalat, karena dilakukan dengan lentur dan tenang, maka cocok buat semua usia. Ia tak berisiko mencederai tubuh, bahkan menyehatkan.

Hanya saja, kesimpulan tak berarti Anda disarankan untuk tidak berolahraga atau bahkan disalahfahami bahwa, Islam tak memperbolehkan olahraga. Sama sekali tidak. (artikel ini diambil dari: Moslem Society of Indonesia-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s